Make your own free website on Tripod.com

 

Al Muhaafazhatu 'ala al Qadiimi as shaalih wa al akhdzu 'alal Jadiid al-ashlah - Melestarikan Tradisi dan Mengadopsi Modernitas...

Home ] Up ] Menu Hari ini ] Tentang Kami ] Saran ] Search ] Dewan Asatiz ]

Cerpen
 

News
Artikel
Cerpen
Kisah Teladan

 

ARTIKEL

bullet

Indahnya Berprasangka Baik

bullet Persepsi Kaum Santri tentang Filsafat dan Sains
bullet Falsafah Puasa
bullet Dari Ushul Fiqh ke Maqashid Syariah
bullet Dari Pondok Menggapai Mars

 

CERPEN

bullet

Empat Puluh Lima Menit

bullet Sang Jagoan
bullet Pria Idaman
bullet Untuk Bekas Kekasihku

 

 EMPAT PULUH LIMA MENIT

Taufiq Munir Ahmad Syaubari

menganggap enteng '30 menit' bagi seorang wanita di toilet, WC atau kamar mandi sebagai waktu yang cukup panjang adalah kekeliruan besar!

AH, KAU INI. Hampir tiga bulan kau tak mendatangiku. Sekali datang, kau malah mencak-mencak. Tempo hari saat kutelpon via internet, kau memberondongku dengan ribuan tanya. Seolah, akulah satu-satunya pengacara handal yang kau limpahkan untuk Berita Acara Pemeriksaan.

Aku sudah muak, Rocio. Tapi itulah yang kurasa sekarang mengapa harus kuungkapkan padamu. Padahal, sepantasnya kemarahan yang kau sembunyikan tidak membuatku murah hati untuk peduli di saat jauh seperti ini. Sungguh, edan kau.

Aku sudah bisa menebak, kau pasti berapologi "aku sedang sibuk, sayang." Kalau hanya itu, aku yakin semua makhluk di dunia mengalami. Membersihkan bulu ketiakmu saat ini kau anggap kesibukan. Bahkan saat kau beranjak dari kursi menuju kamar kecil, kau anggap sebagai aktivitas yang tak bisa diganggu gugat. Mengapa tidak kau tulis saja jawaban suratku ini di toiletmu itu sekalian? Dasar!

Jangan marah, Rocio. Soalnya aku pernah tertawa pertama kali mendengar jawaban dari seberang sana, teman seapartemenmu memberi jawaban "Rocio sedang di kamar kecil". Aku rasa itu jawaban yang masuk akal, sebab pesawat telpon itu memang tidak pernah menjangkau zona terlarang itu. Dan aku sendiri mafhum, kau belum merasa perlu membeli ponsel hanya sekedar untuk mendengar omong kosongku.

Baik. 30 menit lagi akan kutelpon lagi.

"Hallo, bisa bicara dengan Rocio Ospina Lobato?"

"Oh ya. Mas ini siapa?"

"Saya Rainin. Kamu kenal aku, kan?"

"Nama Rainin itu tak sedikit banyak, mas. Nama lengkap mas siapa?"

"Ahmad Badrina Sutiondoku Sumo Rainin. Sebut saja Rainin. Tolong panggilkan Rocio, saya ada perlu sebentar."

"Tunggu, ya?" kawanmu itu menawarkan diri. "Ooo. dia sedang di kamar mandi." teriaknya kemudian.

Kamar mandi? O, ya aku faham, yang ia maksud tentu saja kamar kecil atau WC itu. Aku tahu benar, kamar mandi dan WC di rumahnya ada dalam satu ruang. Aku memang terlalu gegabah: menganggap enteng '30 menit' bagi seorang perempuan di toilet, WC atau kamar mandi sebagai waktu yang cukup panjang adalah kekeliruan besar! Dia perlu waktu untuk membersihkan rambut, kulit, kukunya yang panjang, dan semua jenis sela-sela yang teramat sulit ditembus. Busana yang ia kenakan sewaktu jalan-jalan sore tadi pun belum masuk hitungan. Mungkin pula ia sedang membersihkan segitiga emas, sebab tak sedikit perempuan yang memang alergi dengan yang lembab-lembab. Ia perlu banyak waktu untuk menyemprotkan bensol ke dalamnya agar tak ada setetes pun bekas-bekas yang membuatnya tak nyaman. Beberapa menit sebelum kakinya melangkah keluar, sudah dipastikan ia atur sedemikian rupa agar tak sedikitpun meninggalkan kesan ia tengah keluar dari tempat najis itu.

Ah, muaknya aku. Jangan-jangan ia berdandan dulu, mengenakan bedak dan ber-make up, lantas mengenakan gaun pengantin?

Setengah jam berlalu. Aku yakin ia kini tengah berdiri berdandan, mematut-matut diri di depan cermin. Usai merapihkan badan sekian waktu, kemungkinan dia sembahyang Zuhur. Atau barangkali sedang bersiap-siap ke luar rumah?

Coba saja. Kali ini aku harus menangkap suara lembutnya, mendengar kata-kata rindu dan sayang itu sekali lagi, agar hari ini menjadi hari seceria pertama kali aku jatuh cinta padanya, di sana, di pesta ulang tahunnya yang ke-17.

"Hallo, ini Rainin. Ada Rocio?"

"O, maaf. Kak Rocio masih di kamar mandi. Ada pesan?"

"Terima kasih. Lain kali saja. Wassalamu `alaikum."

Oh Tuhan. Mengapa kamar mandi tak sebatas sebagai tempat untuk menampung fungsi-fungsi utama sebagai tempat untuk membersihkan tubuh, area relaksasi, area pakaian dan area rias bahkan hingga tempat mencari-cari celah jawaban?

Gagang telpon aku tutup. Aku berusaha tersenyum. Dadaku tidak bisa kubohongi. Darah sedikit menggumpal, untung tak meledak menjadi amarah.

Kesekian kalinya kesalahanku terulang. Aku terlanjur tidak mempercayai kalau di zaman saiki, toilet sudah berubah fungsi. Di tempat bersarangnya bakteri dan kuman, tempat yang paling kondusif segala macam praktek kebebasan seks, penyalahgunaan narkotika, bahkan aborsi! Jika tidak, mengapa sebelum masuk zona WC, manusia mesti berdoa agar dijauhkan dari godaan “syetan laki-laki dan perempuan”!

Aku harus membuang pikiran itu jauh-jauh. Tentu saja karena Rocioku sayang bukanlah manusia sebejat itu. Dia berjilbab, anak seorang kiyai terpandang. Dia sendiri seorang seorang aktivis gerakan muslimah kesohor. Pendek kata, dialah wanita yang selama ini kuidamkan. Meskipun segala kemungkinan bisa terjadi, tapi hubunganku selama bertahun-tahun tak mungkin dipatahkan oleh tuduhan keji apapun. "Mustahil!" kataku dalam hati.

Kemungkinan yang paling benar barangkali ia tengah tadabur, merenungi alam semesta ini beserta isinya. Aku yakin ia sedang kontemplasi pada satu titik. Sebab yang kutahu berapa banyak temanku kehilangan sesuatu atau akal sehatnya lantas kembali waras dan mengingatnya kembali pada saat ia bertafakkur di WC. Temanku yang lain memenangkan suatu sayembara dengan inspirasi yang dihasilkan dari tempat itu. Tempo hari, Pak Budiarto menemukan inisiatif memecat sekretarisnya gara-gara di kamar mandi pacar gelapnya itu ditemukan celana dalam PIL [Pria lain].

Ya, aku semakin yakin kini Rocioku sedang ber-uzlah, mengisolir diri bagai Muhammad berkhalwat di goa Hira.

Aku tak perlu menelponnya lagi. Suatu saat dia telpon balik ke rumahku, sembah sujud di hadapanku, mengiba-iba minta maaf dengan untaian katanya yang tak pernah kering dari cinta dan sayang.

Aku tak perlu menelponnya lagi. Biarkan saja dia yang memulai untuk meminta maaf. Lebih baik aku telpon si Yeni saja, teman sekamarnya, meskipun sekarang Yeni lebih banyak menampakkan sikap antipatinya. Entah karena apa.

"Halo, bisa bicara dengan Yeni?"

"Ya saya sendiri."

"Apa kabar Yen? Ini Rainin"

"O, kau. Baik. Ada apa, Rain...?"

"Aku sedang jengkel. Rocio koq sibuk mulu, sih?"

"Emangnya dia di mana sekarang?"

"Di kamar mandi. Hampir satu jam aku tunggu."

"Ooo. Memang begitu kebiasaannya. Bersabarlah sedikit", Yeni menasehati.

"Menunggu sampai berapa lama?”

“Tunggu sajalah. Nanti juga keluar” Yeni menasehati.

“Apa yang dia lakukan di sana?"

"Kemungkinan dia sedang tidur." Jawabnya singkat.

"Hah????"

 

Tenth District, 24-02-2004

Biodata SingkatTaufiq Munir Ahmad, Direktur Eksekutif Sanggar Kinanah Kairo. Karyanya dibukukan dalam Antologi Cerpen"Lazuardi-3" dan Antologi Cerpen "Menjaring Angin" bersama novelis kondang Pipit Senja dan anggota Forum Lingkar Pena pimpinan Helvy Tiana Rosa, keduanya diterbitkan oleh Senayan Abadi, Jakarta. Pria jebolan MALNU ini sekarang tengah menempuh studi program S1 Fakultas Ushuluddin jurusan Akidah dan Filsafat, al-Azhar University. []

 

 

 

 

 

 

 

 

KISAH TELADAN

bullet

Kisah Lima Perkara Ajaib

bullet Berkat Membaca Bismillah
bullet Kisah Bumi dan Langit
bullet Kelebihan Puasa pada 10 Muharram
bullet Batu-batu Aneh
bullet Seorang Anak Membangkang Perintah Ayah
bullet Hikmah Berbakti Kepada Kedua Ibu Bapak

 

Sepenggal kalimat tentang MALNU, klik di sini

 

Home ] Up ]

Send mail to religiusta@softhome.net with questions or comments about this web site.
Copyright © 2004 Mathlaul Anwar Li Nahdlatil Ulama