Make your own free website on Tripod.com

 

Al Muhaafazhatu 'ala al Qadiimi as shaalih wa al akhdzu 'alal Jadiid al-ashlah - Melestarikan Tradisi dan Mengadopsi Modernitas...

Home ] Up ] Menu Hari ini ] Tentang Kami ] Saran ] Search ] Dewan Asatiz ]

Cerpen
 

News
Artikel
Cerpen
Kisah Teladan

 

ARTIKEL

bullet

Indahnya Berprasangka Baik

bullet Persepsi Kaum Santri tentang Filsafat dan Sains
bullet Falsafah Puasa
bullet Dari Ushul Fiqh ke Maqashid Syariah
bullet Dari Pondok Menggapai Mars

 

CERPEN

bullet

Empat Puluh Lima Menit

bullet Sang Jagoan
bullet Pria Idaman
bullet Untuk Bekas Kekasihku

 

PRIA IDAMAN

Taufiq Munir Ahmad Syaubari

Kapan kau kawin? Atau kamu tidak akan pernah lagi melakukannya sebelum ulang tahunmu yang ke-50?

Ia tertawa dengan santainya. Seolah sesutu tidak terjadi. "aku belum bisa menerimanya", jawabnya kemudian.

Suad menimpali dengan heran, " Apakah dunia sudah kosong dari lelaki atau memang waktu yang sudah sedemikian rupa berjalan menggunakan kaca mata?"

Ia tersenyum. "tidak kosong dan saya akan menggunakan kacamata. Tapi bukan itu yang menjadi penyebab. Percayalah, kalau memang aku berniat kawin maka sebenarnya aku tidak akan kawin dengan siapapun. Saya tidak akan kawin kecuali dengan lelaki yang benar-benar istimewa, bahkan suangat istimewa. Lelaki yang terkumpul semua karakteristik. Aku akan memilih satu lelaki dari seribu. Kami akan kawin hanya satu kali saja seumur hidup. Dalam satu kali ini, aku benar-benar menetapkan pilihan yang tepat".

"seperti apakah karakteristik istimewa itu? Tinggi? Pendek? Putih? Hitam manis?" Suad berlagak seperti wartawan.

"Tepatnya aku tidak tahu. Tapi aku akan tahu saat aku menemukannya."

Suad tertawa, "kalau begitu, kamu benar-benar tengah bermimpi. Kamu pikirkan siapa. Tak ada.,…. Kecuali di sini" suad tertawa sambil menunjuk ke arah kepalanya.

Ia menjawab dengan penuh keyakinan sambil membereskan rambutnya yang bergerai di atas keningnya. "percayalah, ia pasti ada. Kamu pasti bakal lihat".

***

Tampak ia sosok dari keluarga yang ideal di rumah temannya, Nawal, ketika ia bertemu untuk pertama kali.

Dan hingga sekarang ia tak tahu sebabnya yang membuat kondisi kegundahannya itu yang ia derita saat bertemu dari face to face. Banyak yang membuat ia terkagum-kagum akan prinsipnya itu dan kepribadiannya yang sungguh sangat baik dalam sikapnya yang seperti apapun, kendati ia masih tergolong baru di matanya. Namun pada kali ini sepertinya ia "manusia lain" yang benar-benar terjadi. Mengapa kalimat-kalimatnya seolah keluar dengan gamang.  Mengapa detak-detak jantungnya tiba-tiba saja berdetak begitu kencang ketika laki-laki itu menanyakan namanya padahal ia sudah mengucapkannya berkali-kali dan ia tak merasakan seperti perasaannya sekarang ini? Mengapa pipinya berbunga-bunga ketika ia menjawabnya bahwa namanya sangat cantik meskipun itu hanya ucapan biasa yang biasa diucapkan pada saat sekarang ini. Bahkan mengapa ia memikirkannya sekarang? Bukankah ini bukan yang pertama dan terakhir orang yang ia temukan dalam hidupnya. Ada apa sebenarnya? Sungguh, ia memang sungguh tampan tapi ia pernah menemukan orang yang lebih tampan dari itu. Wanita itu tak bisa mengingkari bahwa kata-katanya menyimpan wawasan yang tak terbatas yang mungkin saja ia seorang yang terpelajar. Tapi, sekali lagi, ia sudah pernah melihat orang-orang yang justeru lebih terpelajar dan lebih pintar dari itu. Ah, mungkin aku merasa ia sesuatu yang penting tapi dalam kehidupannya ada yang justeru lebih penting. Apakah memang karena laki-laki itu mendominasi semua sifat-sifat yang aku inginkan? Mungkin ada sebab lain yang lebih dari itu.

Rupanya perasaan mengantuk telah mengalahkannya di malam itu sebelum ia sampai kepada jawaban yang memuaskan dari semua pertanyaan-pertanyaan itu.

***

Laki-laki itu membayangkannya bahwa ada sesuatu kesalahan, tapi ia mencoba memulai menampung perkara dalam detik-detik ke depan untuk mendengar kabar wanita itu. Ia tidak tahu apakah selamanya atau sekilas saja bahwa menghubungi Nawal hanya untuk sebab itu. Dan bahwasanya yang menemuimu di rumah kami kemarin menginginkan ambil langkah maju untuk melamarmu. Kalimat-kalimat kecil yang diucapkannya yang ditinggalkan sesudahnya barangkali dilupakan, mungkin juga gembira, mungkin juga ia menolaknya. Tapi sudah pasti pernah suatu ketika ia berbeda sekali ketika mengangkat telpon untuk menjawab Nawal, ia loncat dari kursinya dan memanggil ibunya.

 ***

Di hari perkawinan sebagaimana biasanya ia tampil dengan gambaran yang cukup mewah. Seperti biasanya juga ia bagai raja yang menyerahkan singgasana kerajaannya. Dan ketika matanya pertama kali saling bertemu pada saat sekarang ini, wanita itu tersenyum, dalam fikiran wanita itu hanya satu barangkali ia tidak rewel pada seseorang sebelumnya. Tapi wanita itu dan sejak melihat laki-laki itu pertama kali di rumah Nawal ia tahu bahwa laki-laki itu adalah orang yang ia impi-impikan. Satu diantara seribu laki-laki. Wanita itu tahu akan semua itu tapi tidak tahu bagaimana ia bisa mengetahuinya dan ia hanya memastikannya saja. Apakah itu fakta tidak meninggalkan medan untuk keraguan. Maka pada hari ini adalah hari perkawinannya dan inilah dia sumpah setianya dan apa yang ia impikan kini sudah tercapai. Perasaan yang merenggutnya telah dikejutkan tawa para undangan yang datang untuk mempersembahkan ucapan selamat. Seperti biasanya ia tidur malam itu.

***

Tiga bulan sudah berlalu dari hari perkawinannya. Tiga bulan, tiap hari atau bahkan tiap detik dalam tiga bulan cukup menegaskan  bahwa ia tidak salah memilih. Setiap hari ia menemukan sesuatu yang baru. Ia amati dalam kebahagiaan seperti anak kecil, laki-laki itu menikmati makanannya, membaca korannya, bahkan saat dia tidur. Tiap hari ia terus mengevaluasi peristiwa-peristiwa yang terus terjadi, dan berfikir betapa hari-hari begitu sangat indah. Cintanya begitu melampaui romantisnya laki-laki lain. Betapa halus dan lembutnya, ia bersamanya terasa nyaman yang tak ada ada batasnya. Maka baginya ia adalah segala-galanya.

Ia hanya terdiam saat suaminya berbicara, untaian kata-katanya melebihi syair-syair rayuan para pujangga… bahkan pandangan matanya yang membetulkan koreksinya bahkan melampaui sihir dukun, ia melihatnya sempurna dalam hal apapun. Pada dirinya semua yang ia inginkan dan justeru lebih dari itu. Ia katakan padanya bahwa kalau ia diperintahkan untuk membuatkan sendiri seorang suami ideal, maka sudah pasti akan tertinggal separuh kesempurnaannya.

Suaminya terbahak-bahak. Suaminya bilang bahwa mereka meninggalkannya untuk melakukan itu dan menimbang-nimbang hal tersebut akhirnya dia pilih wanita yang ada di hadapannya. Seorang bidadari yang tak ada bandingannya kecuali di surga.

***

Akhirnya, anaknya tertidur. Ia ingin merampungkan sebagian keperluan yang tertinggal. Ia perhatikan jarum jam telah menunjukkan tengah malam. Waktu sudah berakhir, tapi ia tahu bahwa masih ada sisa waktu, sementara suaminya belum datang saat ini karena beberapa hal. Penantian ini memang mengganggu, hari kemarin setiap detik ia khawatir ia terlambat datang ke rumah. Waktu terus berjalan, sementara hal ini terus berulang, terutama ia selalu saja ada uzur yang memungkinkan untuk terlambat. Ia masih saja tidak ingin mengutarakan faktor keterlambatannya atau berusaha untuk menundanya terlebih dahulu. Ia tak ingin menghambat harinya dahulu, dan seperti biasanya kembali dari luar dengan gembira dan tak masuk akal jika ia merusak kebahagiaannya. Dalam hati ia tertawa sedang ia menyakiti dirinya sendiri apabila ia terlambat berharap dalam mimpinya tak ada teman yang melewati malam bersama.

***

Ia mendengar suara telfon berdering. Bergegas ia melangkah ke sumber suara. Siapa gerangan yang menelpon malam-malam seperti ini. Oh, barangkali ia ingin memberitahu sesuatu yang penting. Ia angkat gagang telpon, dari arah seberang line itu terputus. Begitu seterusnya berulang-ulang. Ia ingat saat ia menanyakannya tapi ia tidak menjawab melebihi senyumnya dan karena ia pasti memikirkan suatu solusi untuk mencegah hal-hal darurat seperti ini, lalu ia lupakan masalahitu dan ia mengatakan bahwa ia hampir saja terjatuh karena lapar. Ia mengharap hidangan makan dari kedua tangannya yang halus. Bergegas ia ke dapur.

***

Kehidupan pertamanya berlangsung seperti itu. Dan bertahun-tahun terus berlalu seperti apa adanya. Setiap hari ia menemukan sesuatu yang baru, perangai yang baru yang belum pernah ia ketahui. Di hari-hari pertamanya ia temukan dirinya sungguh sangat menarik, tapi ia lupa atau mungkin pura-pura lupa bahwa ia bukan satu-satunya yang mempunyai mata yang mampu membedakan seperti itu. Setiap wanita terlahir dengan dua mata. Semuanya memiliki perasaan yang bisa dihadiahkan kepada yang dicintainya walaupun berada di puncak gunung.  Dan betapa ia ingin seandainya suaminya tertawan pada dirinya saja… berharap kalau tidak seorangpun di dunia mampu melihatnya kecuali dirinya saja. Suaminya tertawa saat isterinya mengatakannya demikian. Suaminya berjanji membelikan tali untuk mengikat kakinya ke kaki ranjang. Mungkin isterinya itu marah dari gurauannya itu namun cepat-cepat ia menghiburnya. Sudah kebiasaannya – seperti yang kita tahu—ia sangat mahir dalam hal ini.

Bersamanya, betapa lembutnya sang suami, ia dengarkan setiap kalimat yang diucapkannya dan terdiam dengan penuh cinta. Betapa ia ingin telinganya untuknya saja, tapi ia tidak lakukan. Ia menafsirkan setiap sesuatu dengan kelembutan suaminya yang melebihi dari yang lain yang ia abaikan selain perhatian penuh dan penjagaan penuh. Mungkin ia sempit untuk memperhatikannya pada orang lain tapi perhatiannya padanya adalah suatu solusi dari sudut pandangnya. Rayuan pujangga dan sihir dukun yang ia nikmati dahulu nampak padanya juga dinikmati orang lain, bahkan wanita lain……..

Akhirnya, perhatiannya semakin berkurang. Dan menjadi tidak perhatian lagi. Protesnya tak mempunyai penyelesaian seperti yang dikatakannya… ia seperti lelaki tak berdosa yang tidak tahu ini-itu selama ia tidak keluar dari batas-batas yang diketahui dalam hubungannya dengan salah seorang dari wanita-wanita itu. Saat ia tanyakan tentang hal biasanya, yakni meminta segelas teh, ia justeru meminum gelas seperti waktu sekarang ini.

***

Akhirnya, setelah bertahun-tahun terlewati, setiap hari ia temukan sesuatu yang baru. Setiap detik menjadi kisah-kisah baru dalam hidupnya, dengan wanita baru. Saat ia dihadapkan pada protes dan pengaduannya, biasanya ia mengelak. Suaminya melihatnya penuh waswas. Ghiroh wanit itu bertambah, ia tidak puas kecuali dengan yang ada di kepalanya dan bahwasanya ia harus mempercayainya saja, krena memang suaminya tak pernah berdusta padanya hari ini. Dan dengan redaksinya yang meluncur seperti biasanya seolah memuaskan semakin mungkin memuaskan dirinya dengan mudah pada awalnya dan dengan sulit sesudah itu. Tapi ia merasa puas pada setiap hal.

***

saat sang isteri menemukan dustanya ternyata itu juga masih saja waja-wajar saja. Suaminya mengatakan tentang ketakutannya untuk membenci isterinya atau tabiatnya yang tidak merasa puas dengan apa yang memuaskannya. Dan bagaimana ia menemukan semuanya itu secukupnya untuk tidak membohongi seperti yang dikatakan isterinya, bahkan menyembunyikan fakta yang sebenarnya kepada isterinya.

Hari terus berlalu, tahun terus berjalan, tidak ada perbedaan yang berarti pada diri isterinya antara dusta putih, hijau atau biru………. Isterinya belum juga mengetahui apakah isterinya itu mempercayainya karena suaminya percaya atau memang karena memang dia menginginkan itu.

Sang isteri memegang cerminnya, ia duduk seorang diri di kamarnya memperhatikan wajahnya, tergores di sekitar matanya lingkaran hitam seperti malam yang ia lewati seorang diri. Ia letakkan kaca di samping, ia bereskan rambutnya ke belakang, ia ingat-iongat mengapa ia selalu saja mencari laki-laki yang membawa sifat-sifat diantara seribu laki-laki lain. Ia tersenyum. Ia telah memilihnya, dan … ia telah menjatuhkan pilihan yang benar: seorang lelaki yang memiliki sifat-sifat lelaki. Perkasa diantara seribu lelaki. []

 

 

 

 

 

 

 

 

KISAH TELADAN

bullet

Kisah Lima Perkara Ajaib

bullet Berkat Membaca Bismillah
bullet Kisah Bumi dan Langit
bullet Kelebihan Puasa pada 10 Muharram
bullet Batu-batu Aneh
bullet Seorang Anak Membangkang Perintah Ayah
bullet Hikmah Berbakti Kepada Kedua Ibu Bapak

 

Sepenggal kalimat tentang MALNU, klik di sini

 

Home ] Up ]

Send mail to religiusta@softhome.net with questions or comments about this web site.
Copyright © 2004 Mathlaul Anwar Li Nahdlatil Ulama