Make your own free website on Tripod.com

 

Al Muhaafazhatu 'ala al Qadiimi as shaalih wa al akhdzu 'alal Jadiid al-ashlah - Melestarikan Tradisi dan Mengadopsi Modernitas...

Home ] Up ] Menu Hari ini ] Tentang Kami ] Saran ] Search ] Dewan Asatiz ]

Cerpen
 

News
Artikel
Cerpen
Kisah Teladan

 

ARTIKEL

bullet

Indahnya Berprasangka Baik

bullet Persepsi Kaum Santri tentang Filsafat dan Sains
bullet Falsafah Puasa
bullet Dari Ushul Fiqh ke Maqashid Syariah
bullet Dari Pondok Menggapai Mars

 

CERPEN

bullet

Empat Puluh Lima Menit

bullet Sang Jagoan
bullet Pria Idaman
bullet Untuk Bekas Kekasihku

 

UNTUK BEKAS KEKASIHKU

Anis Mansour.

  

Kekasihku,

Dengan surat ini berakhirlah kisah cinta yang pahit. Berakhirlah tujuh tahun dari umurku. Tahun-tahun yang panjang membentang, berisi keganasan samudera, kesunyian sahara, dan cinta dari satu arah, yaitu dari arahku saja. Pada tahun-tahun itu aku seperti seorang nelayan, yang naik sebuah biduk kecil, turun ke tengah lautan pada hari mendung dan penuh badai. Nelayan itu hanya mengenakan selembar baju yang sobek dan compang-camping. Baju itu adalah cintaku kepadamu.

Diammu adalah gunting yang merobek-robek bajuku.

Aku memakai baju itu, dan aku tidak membencimu sedikitpun. Setiap hari aku termenung di jendela untuk memburu satu hal saja, yaitu dirimu. Aku mendengarmu, tapi tidak melihatmu. Aku melihatmu, tapi tidak dapat mendapatkan hatimu. Dulu aku punya harapan dan hingga sekarangpun aku tak kehilangan harapan itu. Iblis yang diusir Allah dari surga pun masih bermimpi kembali ke sana. Iblis tidak kehilangan harapannya, sebab Allah kuasa memaafkan semua yang bersalah, keturunan iblis sekalipun. Tapi, aku bukan iblis, dan akupun bukan Allah. Itu yang membuat posisiku sulit.

Pujaanku. Kekasihku.

Engkau adalah anak kecil yang belum dewasa. Kau pikir cintaku kepadamu adalah "uang saku" yang harus kuberikan kepadamu setiap hari. Aku yang selalu memberi dan engkau yang memasukkannya ke dalam sakumu. Seringkali sakumu itu bolong sehingga cintaku jatuh berceceran di tanah. Berkali-kali aku mengumpulkannya kembali dari mulut orang-orang, dari mulut saudara-saudaramu, saudara-saudaraku, dan teman-temanku. Lalu, pada hari berikutnya aku memberikan kembali uang saku yang sangat besar itu kepadamu. Menurutku, yang kuberikan sangatlah besar, meskipun menurutmu itu sangat kecil. Engkau benar. Engkau layak mendapatkan lebih banyak daripada yang telah kuberi. Engkau layak memiliki dunia seluruhnya. Andai saja kupunya itu. Tapi, yang kupunya hanya diriku dan itu telah kuberikan kepadamu dengan suka rela.

Kemudian, aku melihat cintaku berjalan pada satu arah saja dan tidak kembali ke arahku. Hatiku seperti matahari yang berjalan dari Timur ke Barat, dan tidak kembali dari Barat ke Timur. Aku mengusahakan sesuatu yang mustahil padamu: aku berusaha mengajarkanmu kata-kata cinta untuk kauucapkan kepadaku, berusaha membuat cinta menjadi tembang di lidahmu, berusaha memaksamu berdusta dan berkata kepadaku walau hanya sekali, "Aku cinta kepadamu".

Hal itu kulakukan karena kuingin melihat wajahmu saat kau ucapkan huruf-huruf kecil yang kunanti-nanti sepanjang hidupku. Aku membayangkan seorang gadis bahagia yang kau katakan kepadanya pada suatu hari: aku cinta kepadamu. Itulah kemustahilan yang telah kuusahakan kepadamu! Bahkan, aku pernah memintamu mencintai gadis lain agar kau tahu bagaimana rasanya tersiksa seperti yang kurasa, agar kau tahu hal-hal kecil yang membahagiakan dan menyedihkanku. Aku tidak membencimu sedikitpun. Aku katakan kata-kata ini, "aku sangat mencintaimu, sekaligus kasihan kepadamu".

Aku merasa kasihan kepadamu karena engkau adalah orang bodoh yang tidak mengetahui lezatnya perasaan dan indahnya khayalan yang menjadi bunga-bunga mimpi orang-orang yang sedang dimabuk cinta. Engkau hanya memiliki indera mata, telinga, hidung, dan lidah. Ada satu indera yang tidak engkau miliki. Aku sembahyang dan berdoa untukmu agar Allah memberikanmu indera itu dan menghindarkanmu dari rasa tersiksa seperti yang kurasa, sebab aku tidak membencimu sedikitpun.

Aku pernah meminta-minta kepadamu agar mencintaiku. Cintaku kepadamu seperti air hujan yang turun dari awan dengan sendirinya, sedangkan cintamu kepadaku seperti air yang turun dari kran karena permintaan. Aku rela kau cintai atas dasar permintaanku, rela menjadi kekasihmu bukan atas dasar keinginanmu sendiri. Aku rela mendapat kehinaan itu, sebab aku tidak membayangkan engkau membenciku, engkau tidak mungkin membenciku, sebab aku bukan boneka, bukan gadis bodoh, selain itu aku pun mencintaimu. Aku menyukai beban ini demi lelaki yang kucintai. Aku seperti gadis-gadis lain yang suka merasa tersiksa demi lelaki yang kami cintai.

Aku tidak pernah kehilangan harapan. Aku percaya, hatimu seperti kamera yang akan terbuka pada suatu hari dan hanya mendapati diriku di hadapannya. Aku akan menjadi foto pertama yang tercetak di album hidupmu. Setiap kali aku membayangkan itu, aku mengerti bahwa kamera itu sudah bergerak, tapi tidak terdapat film di dalamnya. Aku tidak putus asa. Kukatakan, hatimu sedang bermain-main dengan api, dan orang yang bermain api pasti terbakar bajunya. Tidak kukatakan terbakar hatinya, sebab aku tidak berambisi hingga derajat itu.

Akhirnya, aku yakin bahwa aku sedang menentang kesombongan laki-laki pada dirimu. Laki-laki tak sudi terlihat lemah. Kesombongan membuatnya membayangkan bahwa cinta adalah kelemahan. Jika cinta seperti itu,m maka aku tidak suka di dalam dirimu ada cinta dan aku tidak suka melihat tanda-tanda cinta di wajahmu. Aku memang senang engkau mencemaskanku, tapi aku tidak suka engkau terlihat cemas. Aku memang berharap melihatmu mencucurkan air mata demi diriku, tapi aku membenci engkau mencucurkan air mata.

Aku menjadi putus asa saat tahu bahwa kesombonganmu telah membubung hingga menjadi sekat yang tertanam di dadamu dan mengangkat kepalamu ke belakang. Kesombonganmu bukan cuma kondisi emosional lagi, namun sudah menjadi kondisi tubuh. Kesombonganmu telah menjadi sesuatu yang sangat kasat mata. Tapi, aku tidak suka laki-laki yang hina dan menundukkan kepalanya, meskipun itu demi aku. Aku tidak menginginkanmu sebagai orang lemah. Aku menginginkanmu sebagai orang yang kuat. Tapi, kekuatanmu itu menggandakan rasa tersiksaku, seakan-akan Allah menciptakan kamu kaum perempuan untuk fana dan kaum laki-laki saja yang kekal.

Aku bukan sedang marah ketika memintamu memberikan cinta seperti yang telah kuberikan kepadamu. Tahukah engkau peribahasa yang tepat dengan kondisiku, "aku harus menjadi pengemis cinta". Aku tidak ragu-ragu untuk menjadi pengemis cinta jika itu menyenangkanmu. Aku tahu, para biksu memakai pakaian para pengemis dan mengadahkan tangan kepada orang lain. Mengapa? Mereka merekayasa agar orang lain mendapatkan pahala dari Allah. Aku pun telah merekayasa untuk mendapatkan ridhamu. Aku marah padamu, ruku di hadapanmu, menadahkan tangan di depanmu, dan meletakkan hatiku di telapak kakimu. Aku biksu di kuil cintamu. Kutinggalkan dunia untuk memikirkan dirimu. Kumuntahkan makanan yang memenuhi mulut dan lambungku, lalu khusyu dengan gambaran wajahmu yang memenuhi khayalan dan hatiku. Semua itu demi dirimu. Aku mencari-cari dirimu, tapi tak pernah mendapatkannya. Aku seperti orang yang melemparkan jala di pantai yang penuh debu dan batu karang. Sungguh, seakan-akan debu dan batu karang itu akal dan hatimu.

Lalu, aku merasakan sesuatu yang sangat aneh dan menyakiti hatiku. Aku merasa seakan-akan cinta adalah "topi penghilang" seorang pesulap. Setiap kali kukenakan topi itu, aku lenyap dari pandanganmu, hilang dari pendengaranmu, dan menjadi bayangan yang tak tersentuh oleh jari-jarimu. Aku merasa bahwa diriku adalah seorang pencuri yang berharap dapat membuka brankas hatimu, lalu meletakkan diriku di dalamnya dengan cara kekerasan. Kurasa aku telah berharap dapat melihat dirimu walau dengan menggunakan kekerasan. Aku tidak menyukai rasa itu. Aku tidak mau mendapatkan cintamu dengan cara mencuri. Sebab, aku membayangkan bahwa cinta adalah lampu yang diceritakan kepada kita oleh Kisah Seribu Satu Malam. Cinta adalah lampu "Aladin" yang menerangi jalan bagi manusia menuju harta karun. Hartaku hanyalah hatimu. Lalu, dimana lampu itu? Tak kutemukan lampu untuk melihat hatimu. Kekasihku, hatimulah lampu aladinku. Hatimulah yang menerangi dunia dari awal hingga akhirnya. Engkau adalah awal duniaku dan engkau jugalah akhirnya.

Aku juga mengetahui hal lain: yang kutawarkan kepadamu sangatlah konservatif, padahal kita sekarang hidup di era kebebasan. Semua orang sekarang menuntut hidup di era kebebasan. Semua orang sekarang menuntut kebebasan dari penjajahan dan dari tirani asing. Tapi aku tidak, aku tidak meminta kebebasan darimu. Aku memintamu membelengguku dan menjajah perasaanku. Aku meminta perlindungan dan pengawasanmu. Aku memintamu memasukkanku ke dalam wilayah kekuasaanmu, bersama anjing, kendaraan, dan keluarga milikmu. Aku sama sekali tidak terkejut saat engkau menolak permintaan konservatifku itu, sebab engkau adalah anak zaman ini, anak generasi baru. Aku gunakan kesempatan ini untuk mengucapkan selamat ulang tahun untukmu  yang ke-dua puluh lima. Maafkan aku tidak kubiasakan selama tujuh tahun ini. Engkau tahu itu, tapi tidak mengapa kukatakan sekarang: mencium tanganmu. Sekarang aku mengkhayalkan tanganmu dan menciumnya sekali lagi, sebab segala sesuatu akan menjadi khayalan mulai hari ini.

Hingga tiba hari kemarin!!!

Titik-titik itu kubuat pada suatu hari, lalu aku berhenti menulis surat ini dan hari ini kuteruskan dan akan kuselesaikan. Kemarin aku memintamu untuk secara terus terang menyatakan engkau mencintaiku atau tidak. Ah, andai saja itu tidak kulakukan. Lalu, jawabanmu sangat jelas: engkau tidak mencintaiku!

Jawabanmu adalah pisau yang merobek-robek hatiku, merobek-robek diriku, merobek-robek dunia di sekitarku semuanya, atau merobek-robek tanah tempat kakiku berpijak sehingga aku pun terjatuh ke lubang yang sangat besar dan sangat dalam. Sekarang aku sadar bahwa lubang itu adalah kuburan cintaku. Aku tidak membenci keterusteranganmu, meskipun aku telah terus-menerus mendorongmu untuk berdusta. Tapi, jawabanmu itu seperti vonis hukuman mati dan engkau mengucapkannya sesederhana mufti negara mengeluarkan fatwa, atau sesederhana engkau menyampaikan keputusan mutasi seorang pegawai dari Kairo ke Alexandria. Dulu aku pegawai pada pemerintahanmu, dan tugasku adalah mencintaimu. Aku kini telah dimutasi dari dunia ke akhirat. Sebenarnya keputusanmu itu bukan permutasian, melainkan pemecatan diriku dari duniamu dan dari siksaanmu.

Aku belum berhenti berharap. Dari waktu ke waktu aku mengharapkanmu mengeluarkan keputusan bahwa aku tidak bersalah. Aku berharap tali gantungan itu terputus dan engkau sendiri yang memutuskannya, sebab engkaulah yang memegangnya. Engkau dapat meletakkannya di leherku atau di kakiku, atau menjadikannya kalung berhias bunga mawar dan melati.

Hasilnya, aku kehilangan segalanya. Aku kehilangan perasaanku. Aku tidak mampu lagi merasa terluka atau bahagia. Apakah engkau mengetahui seseorang yang terbentur tembok dengan sangat keras? Orang itu pasti sangat pusing dan hilang kesadaran. Aku telah terbentur tembok. Terbentur dirimu. Kepala, hati, dan akalku terbentur. Tahukah kau orang yang mempunyai uang satu milyar, lalu dikejutkan oleh kebakaran yang meludeskan uangnya? Seandainya saja api yang meludeskan uangnya, tapi air eslah yang menenggelamkan semua uangnya itu. Orang itu pasti benar-benar hilang kesadaran. Tidak dapat merasa berduka atau bersedih. Aku sekarang tidak memiliki perasaan, tapi aku tidak mencintaimu.

Kelanjutan cerita ini berlangsung sangat cepat dan sama sekali tidak penting bagimu. Aku ceritakan kepadamu peristiwa-peristiwa yang terjadi itu dalam dua kalimat, "ayahku meminta agar aku bersedia menikah dengan sepupuku. Aku tidak menerima atau menolak, sebab aku sudah mati!".

Lalu, ayahku berkata, "Selamat!"

Orang-orang masih mengulang-ulang kalimat itu, kalimat yang tidak bermakna itu, seperti segala sesuatu yang lain yang tidak bermakna, bahkan dirimu! Aku merasa lega saat aku setuju menikah. Pernikahan yang aneh. Mereka mengikat janjiku, padahal aku sudah mati, padahal aku sedang berbaring di ranjang kematian, bahkan aku sudah berbaring di dalam kuburan. Ayahku sangat bahagia. Suamiku juga. Dia menyangka diriku menjadi sumber kebahagiaan. Aku sumber kebahagiaan? Ya, aku orang yang sengsara dan terlantar, menjadi sumber kebahagiaan bagi orang-orang lain!

Berita terbaik yang kubaca minggu ini adalah yang dimuat oleh korang-koran Prancis tentang pemerintah Prancis yang menyetujui pernikahan seratus gadis dengan seratus prajurit yang telah gugur dalam perang. Pemerintah itu menyetujui pernikahan gadis-gadis yang masih hidup dengan prajurit yang sudah mati, mengapa? Supaya para gadis itu mendapatkan jatah pensiun para prajurit yang gugur setelah berjanji akan menikahi mereka.

Sementara aku, aku hidup bersamamu tanpa janji, tanpa kata, tanpa makna apa-apa. Akulah yang telah memberikan makna untuk kata-kata yanag tidak kau ketahui. Ini kabar terakhirku: semuanya tidak bermakna. Kabar ini tidak bermakna. Aku tidak bermakna. Dan, engkau pun tidak bermakna. Kuucapkan salam untukmu jika ucapan salam masih punya tempat dalam hidupku atau hidupmu. Sebelum aku membubuhkan titik terakhir dalm surat ini, kulepaskan "topi penghilang" dari hidupku seluruhnya.

Sebab,

"Aku sudah lelah.

Dan aku sudah benar-benar lelah.

Hingga aku tidak merasakan perasaan lelah!"

***

Dari buku: "Ya Man Kunta Habibie" (Untuk Bekas Kekasihku) karya Anis Mansur. Diterjemahkan oleh: Taufiq Munir Religiusta.

 

 

 

 

 

 

 

 

KISAH TELADAN

bullet

Kisah Lima Perkara Ajaib

bullet Berkat Membaca Bismillah
bullet Kisah Bumi dan Langit
bullet Kelebihan Puasa pada 10 Muharram
bullet Batu-batu Aneh
bullet Seorang Anak Membangkang Perintah Ayah
bullet Hikmah Berbakti Kepada Kedua Ibu Bapak

 

Sepenggal kalimat tentang MALNU, klik di sini

 

Home ] Up ]

Send mail to religiusta@softhome.net with questions or comments about this web site.
Copyright 2004 Mathlaul Anwar Li Nahdlatil Ulama